Monday, September 28, 2015

Bahasa dan Fungsinya



Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form
Bahasa dan Fungsinya
Finoza (2005:1-2) mengemukakan Betapa pentingnya bagi manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. Hal itu tidak saja dapat dibuktikan dengan menunjuk pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari, tetapi dapat juga dibuktikan dengan menunjuk banyaknya perhatian para ilmuwan dan praktisi terhadap bahasa. Bahasa sebagai objek ilmu tidak dimonopoli oleh para ahli bahasa. Para ilmuwan dalam bidang lain pun menjadikan bahasa sebagai objek studi karena mereka memerlukan bahasa sekurang-kurangnya sebagai alat bantu untuk mengomunikasikan berbagai hal.

Politisi mempelajari bahasa agar dapat menemukan ciri kata atau kalimat dan gaya bahasa yang dapat menyentuh hati nurani orang-orang di sekitarnya sehingga dapat mempengaruhi mereka. Para ahli jiwa (psikolog dan psikiater) mempelajari bahasa dapat menemukan kata-kata atau kalimat yang dapat berperan dalam penyembuhan pasiennya. Dengan anggapan bahwa speech therapy mempunyai daya sugestif terhadap hilangnya penyakit, dokter-dokter pun perlu mempelajari bahasa. Untuk mendekatkan diri dengan masyarakat ditempatnya bertugas, para pamong, para peneliti, para penyuluh mempelajari bahasa daerah setempat untuk memudahkan mereka berinteraksi sosial demi kelancaran tugasnya. Bahasa juga dipelajari oleh wartawan, seniman, usahawan, dan oleh orang-orang dari beraneka profesi untuk mengungkapkan pikiran, pandangan, perasaan, dan berbagai maksud  lainnya.
Selaku makhluk sosial yang memerlukan orang lain sebagai mitra berkomunikasi, manusia memang memakai dua cara berkomunikasi, yaitu secara verbal dan nonverbal. Berkomunikasi secara verbal dilakukan menggunakan alat/media bahasa (lisan dan tulis), sedangkan berkomunikasi secara nonverbal dilakukan dengan menggunakan media selain bahasa. Alat komunikasi nonverbal yang wujudnya berupa aneka simbol, isyarat, kode dan bunyi.  
  1. KBBI (Depdiknas): Bahasa merupakan sistem bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk berkomunikasi, berinteraksi, bekerjasama, dan mengidentifikasi diri.
  2. Harimurti Kridalaksana : Bahasa merupakan sistem bunyi yang bermakna dan digunakan untuk berkomunikasi oleh setiap kelompok manusia.
  3. Bill Adams : Bahasa ialah sebuah sistem pengembangan psikologi seseorang atau individu dalam sebuah konteks inter-subjektif.
  4. Wittgenstein : Bahasa merupakan suatu bentuk pemikiran yang bisa dipahami, dimengerti, berhubungan dengan kenyataan, dan memiliki struktur dan bentuk yang logis.
  5. Carol : Bahasa ialah sistem bunyi atau urutan bunyi vokal terstruktur yang dipergunakan untuk berkomunikasi internasional oleh kelompok manusia dalam mengungkapkan suatu peristiwa, hal dan proses yang terjadi disekitar manusia.
  6. Ferdinand De Saussure : Mengemukakan bahasa sebagai ciri pembeda yang sangat menonjol, karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai satu kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lainnya.
  7. Gorys keraf : Mengemukakan bahwa bahasa merupakan komunikasi antar anggota masyarakat yang berupa lambang bunyi ujaran dan dihasilkan dari alat ucap manusia.
  8. Plato : Menjelaskan bahwa bahasa pada hakikatnya ialah suatu pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan nama benda atau sesuatu dan ucapan yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulutnya.
  9. Finoechiaro : Bahasa ialah suatu sistem simbol vokal yang arbitrer dan memungkinkan semua orang berada dalam kebudayaan tertentu atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan tersebut yakni berkomunikasi maupun berinteraksi.
  10. Kamus Linguistik : Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk berinteraksi, bekerjasama juga mengidentifikasi diri.
  11. D.P. Tambulan : Bahasa adalah cara untuk memahami pikiran manusia dan perasaannya serta menyatakan isi pikiran dan perasaan.
  12. H.G. Brown : Menyatakan bahwa bahasa merupakan sistem komunikasi yang menggunakan bunyi dan diucapkan melalui organ-organ ujaran serta dapat didengar oleh para anggota masyarakat juga menggunakan simbol-simbol vokal yang bermakna konvensional secara arbiter atau mana suka.
  13. Bloch dan Trager : Bahasa merupakan sistem simbol yang sifatnya arbitrer & dengan sebuah sistem dalam suatu kelompok sosial untuk bekerjasama.
  14. Sudaryono : Menyatakan bahwa bahasa ialah sebagai sarana komunikasi yang sangat efektif walaupun tidak sempurna, sehingga ketidaksempurnaan bahasa dalam berkomuniksi dapat menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman bagi pendengarnya.
  15. William A. Haviland : Bahasa ialah sebuah sistem bunyi yang apabila digabung menurut aturannya akan menimbulkan arti yang bisa dipahami dan ditangkap oleh semua orang yang berbicara dengan mengggunakan bahasa itu.
  16. Mc. Carthy : Bahasa merupakan praktik yang sangat tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir seseorang. (http://www.seputarpengetahuan.com)
Fungsi Bahasa

Menurut Keraf, (1994:3-6) dalam Finoza (2005:2) Dalam bahasa, para ahli umumnya merumuskan fungsi bahasa bagi setiap orang ada empat, yaitu
1.      sebagai alat berkomunikasi;
2.      sebagai alat mengekspresikan diri;
3.      sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial;
4.      sebagai alat control sosial.

Kalau kita cermati, sebenarnya ada satu fungsi bahasa yang selama ini kurang disadari oleh sebagian anggota masyarakat, yaitu sebagai alat untuk berpikir. Seperti kita ketahui, ilmu tentang cara berpikir adalah logika. Dalam proses berpikir, bahasa selalu hadir bersama logika untuk merumuskan konsep, proposisi (putusan-putusan) dan simpulan. Segala kegiatan yang menyangkut penghitungan atau kalkulasi, pembahasan atau analisis, bahkan berangan-angan atau berkhayal, hanya dimungkinkan berlangsung melalui proses berpikir disertai alatnya yang tidak lain adalah bahasa.
Sejalan dengan uraian di atas dapat diformulasikan bahwa makin tinggi kemampuan berbahasa seseorang, makin tinggi pula kemampuan berpikirnya; makin teratur bahasa seseorang, makin teratur cara berpikirnya. Dengan berpegang pada formula itulah di dalam prakata buku ini penulis berani mengatakan seseorang tidak mungkin menjadi intelektual tanpa menguasai bahasa. Seorang intelektual pasti berpikir, dan proses berpikir pasti memerlukan bahasa.
Fungsi bahasa menurut Mahmudah dan Ramlan (2007:2-3) adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat Indonesia. Bahsa juga menunjukkan perbedaan antara satu penutur dengan penutur lainnya, tetapi masing-masing tetap mengikat kelompok penuturnya dalam satu kesatuan sehingga mampu menyesuaikan dengan adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat. Selain itu, fungsi bahasa juga melambangkan pikiran atau gagasan tertentu, dan juga melambangkan perasaan, kemauan bahkan dapat melambangkan tingkah laku seseorang. Dibawah ini beberapa fungsi dari bahasa diantaranya:

1. Bahasa sebagai sarana komunikasi Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat. Fungsi tersebut digunakan dalam  berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam, misalnya : komunikasi ilmiah, komunikasi  bisnis, komunikasi kerja, dan komunikasi sosial, dan komunikasi budaya.

2. Bahasa sebagai sarana integrasi dan adaptasi Dengan bahasa orang dapat menyatakan hidup bersama dalam suatu ikatan. Misalnya : integritas kerja dalam sebuah institusi, integritas karyawan dalam sebuah departemen, integritas keluarga, integritas kerja sama dalam bidang  bisnis, integritas berbangsa dan bernegara.

3. Bahasa sebagai sarana kontrol sosial Bahasa sebagai kontrol sosial berfungsi untuk mengendalikan komunikasi agar orang yang terlibat dalam komunikasi dapat saling memahami. Masing-masing mengamati ucapan, perilaku, dan symbol-simbol lain yang menunjukan arah komunikasi. Bahasa kontrol ini dapat diwujudkan dalam bentuk : aturan, anggaran dasar, undang-undang dan lain-lain.

4. Bahasa sebagai sarana memahami diri Dalam membangun karakter seseorang harus dapat memahami dan mengidentifikasi kondisi dirinya terlebih dahulu. Ia harus dapat menyebutkan potensi dirinya, kelemahan dirinya, kekuatan dirinya, bakat, kecerdasan, kemampuan intelektualnya, kemauannya, tempramennya, dan sebagainya. Pemahaman ini mencakup kemampuan fisik, emosi, inteligensi, kecerdasan, psikis, karakternya, psikososial, dan lain-lain. Dari pemahaman yang cermat atas dirinya, seseorang akan mampu membangun karakternya dan mengorbitkan-nya ke arah pengembangan potensi dan kemampuannya menciptakan suatu kreativitas baru.

5. Bahasa sebagai sarana ekspresi diri Bahasa sebagai ekspresi diri dapat dilakukan dari tingkat yang paling sederhana sampai yang paling kompleks atau tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Ekspresi sederhana, misalnya, untuk menyatakan cinta (saya akan senatiasa setia, bangga dan prihatin kepadamu), lapar (sudah saatnya kita makan siang).

6. Bahasa sebagai sarana memahami orang lain Untuk menjamin efektifitas komunikasi, seseorang perlu memahami orang lain, seperti dalam memahami dirinya. Dengan pemahaman terhadap seseorang, pemakaian bahasa dapat mengenali berbagai hal mencakup kondisi  pribadinya: potensi biologis, intelektual, emosional, kecerdasan, karakter, paradigma, yang melandasi pemikirannya, tipologi dasar tempramennya (sanguines, melankolis, kholeris, flagmatis), bakatnya, kemampuan kreativitasnya, kemempuan inovasinya, motifasi pengembangan dirinya, dan lain-lain.

7. Bahasa sebagai sarana mengamati lingkungan sekitar Bahasa sebagai alat untuk mengamati masalah tersebut harus diupayakan kepastian konsep, kepastian makna, dan kepastian proses berfikir sehingga dapat mengekspresikan hasil pengamatan tersebut secara pasti. Misalnya apa yang melatar belakangi pengamatan, bagaimana pemecahan masalahnya, mengidentifikasi objek yang diamati, menjelaskan bagaimana cara (metode) mengamati, apa tujuan mengamati, bagaimana hasil pengamatan,. dan apa kesimpulan.

8. Bahasa sebagai sarana berfikir logis Kemampuan berfikir logis memungkinkan seseorang dapat berfikir logis induktif, deduktif, sebab akibat, atau kronologis sehingga dapat menyusun konsep atau pemikiran secara jelas, utuh dan konseptual. Melalui proses  berfikir logis, seseorang dapat menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan. Proses berfikir logis merupakn hal yang abstrak. Untuk itu, diperlukan bahasa yang efektif, sistematis, dengan ketepatan makna sehingga mampu melambangkan konsep yang abstrak tersebut menjadi konkret.

9. Bahasa membangun kecerdasan Kecerdasan berbahasa terkait dengan kemampuan menggunakan sistem dan fungsi bahasa dalam mengolah kata, kalimat, paragraf, wacana argumentasi, narasi, persuasi, deskripsi, analisis atau pemaparan, dan kemampuan mengunakan ragam bahasa secara tepat sehingga menghasilkan kreativitas yang baru dalam berbagai bentuk dan fungsi kebahasaan.

10. Bahasa mengembangkan kecerdasan ganda Selain kecerdasan berbahasa, seseorang dimungkinkan memiliki beberapa kecerdasan sekaligus. Kecerdasan-kecerdasan tersebut dapat berkembang secara bersamaan. Selain memiliki kecerdasan berbahasa, orang yang tekun dan mendalami bidang studinya secara serius dimungkinkan memiliki kecerdasan yang produktif. Misalnya, seorang ahli program yang mendalami bahasa, ia dapat membuat kamus elektronik, atau membuat mesin penerjemah yang lebih akurat dibandingkan yang sudah ada.

11. Bahasa membangun karakter Kecerdasan berbahasa memungkinkan seseorang dapat mengembangkan karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan  bahasanya, seseorang dapat mengidentifikasi kemampuan diri dan potensi diri. Dalam bentuk sederhana misalnya : rasa lapar, rasa cinta. Pada tingkat yang lebih kompleks , misalnya : membuat proposal yang menyatakan dirinya akan menbuat suatu proyek, kemampuan untuk menulis suatu laporan.

12. Bahasa Mengembangkan profesi Proses pengembangan profesi diawali dengan pembelajaran dilanjutkan dengan pengembangan diri (kecerdasan) yang tidak diperoleh selama proses pembelajaran, tetapi bertumpu pada pengalaman barunya. Proses berlanjut menuju pendakian puncak karier / profesi. Puncak pendakian karier tidak akan tercapai tanpa komunikasi atau interaksi dengan mitra, pesaing dan sumber pegangan ilmunya. Untuk itu semua kaum profesional memerlukan ketajaman, kecermatan, dan keefektifan dalam berbahasa sehingga mempu menciptakan kreatifitas baru dalam  profesinya.

13. Bahasa sarana menciptakan kreatifitas baru Bahasa sebagai sarana berekspresi dan komunikasi berkembang menjadi suatu pemikiran yang logis dimungkinkan untuk mengembangkan segala potensinya. Perkembangan itu sejalan dengan potensi akademik yang dikembangkannya. Melalui pendidikan yang kemudian berkembang menjadi suatu bakat intelektual. Bakat alam dan  bakat intelektual ini dapat berkembang spontan menghasilkan suatu kretifitas yang baru.

  

Sumber:
Finoza, Lamuddin. 2005. Komposisi Bahasa Indonesia: untuk Mahasiswa  NonJurusan Bahasa. Jakarta : Diksi Mulya.
http://www.academia.edu/8496365/Bahasa_dan_Fungsinya (diakses 29 September 2015)
http://www.seputarpengetahuan.com (diakses 29 September 2015)

Monday, September 21, 2015

Suasana Kampus ...

Assalamualaikum sahabat blogger
Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjaga hati dan lisan kita daripada memikirkan dan membicarakan hal yang tidak ada faedah dan manfaatnya, aamiin. 


Belakangan, saya memang jarang menulis di blog ini. Saya hanya mempublikasikan materi dan info yang diperoleh dari internet. Sebenarnya banyak yang sudah terekam dalam memori tetapi karena kesibukan dan mungkin tidak pandai membagi waktu agak kesulitan juga untuk mentransfernya ke blogger ini. Hari ini, saya ingin sedikit bermanja dengan laptop yang sedang menganggur di meja. Mengapa menganggur? Hari ini sebenarnya jadwal bimbingan skripsi dan proposal. Namun, setelah beberapa jam menunggu tidak seorangpun mahasiswa ku yang datang. Entahlah, apakah mereka sudah pulang kampung, sudah selesai semua revisinya atau karena halangan lainnya. 

Bukan bermaksud untuk memmbandingkan tetapi semoga saja mahasiswaku yang membaca tulisan ini bisa lebih giat dan rajin lagi menuntut ilmu. Bukankah sudah dikatakan tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina, hehehe ini memang bagi yang mampu (ekonomi, fisik dan kemampuan lainnya tentunya). Dulu, ketika saya masih S1, kami (karena bukan saya sendiri yang merasakan) dengan setia menunggu agar dosen mau membimbing dan mencoret-coret proposal dan skripsi kami. Pernah, sudah menunggu berjam-jam ternyata belum dibaca dan dosen juga tidak ada. Tetapi, kami tidak pernah bosan. Jika bosan menunggu maka kami (baca:dosen) tidak bisa seperti sekarang ini hehe. Ketika belajar di negeri seberang, tepatnya di UKM. Suasan kampus di sana begitu terasa. Jangankan hari biasa, hari libur dan hari minggu saja perpustakaan tetap buka bahkan sampai malam. Ya, tentu saja itu akan dimanfaatkan oleh mahasiswa yang ingin mendapatkan ilmu lebih (tidak cukup hanya di kelas saja). Kembali ke masalah bimbingan, walaupun terdapat perbedaan cara bimbingan dosen satu dengan yang lainnya. Kami sebagai mahasiswa pandai-pandai untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Alhamdulillah dapat pembimbing/Supervisor yang sangat rajin. Antar tesis hari ini, besok sudah bisa diambil lagi. Jika beruntung, maka berkesempatan pula bertanya jawab dengan sang Profesor tersebut (sebut saja Prof. Dr. Idris Aman). 

Alhamdulillah, sekali lagi saya bersyukur diberikan seorang dosen pembimbing yang sangat rajin dan teliti membaca halaman demi halaman, bab demi bab tesis yang saya kerjakan. Jika ada usaha dan niat yang baik serta ikhlas dalam mengerjakannnya, Allah akan mendatangkan bantuan-Nya dengan cara-Nya pula. Semoga Anda juga begitu hendaknya, aamiin. Jadi terharu dan ingin cepat-cepat lagi merasakan jadi seorang mahasiswa baru hehehe. Semoga Allah juga mengabulkan  dan memberikan kemudahan kepadaku dan kepada kalian nanti, aamiin (jangan lupa aminkan ya :)).


Sunday, September 20, 2015

Linguistik Umum: Jelajah Awal


Linguistik Umum : Jelajah Awal

          Secara populer orang sering menyatakan bahwa linguistik adalah  ilmu tentang bahasa; atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya; atau lebih tapat lagi, seperti dikatakan Martinet (1987:19 dalam Chaer:2012:1) linguistik adalah telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. 

 

          Apakah linguistik itu? 
      �Linguistik = ilmu bahasa. Dari kata Latin lingua bahasa�, dalam bahasa Inggris dan Prancis langage. Linguistics dalam B.Ing berkaitan dengan language. dalam bahasa Prancis linguistique berkaitan dengan langage. Dalam bahasa Indonesia �linguistikadalah nama bidang ilmu, dan kata sifatnya adalah �linguistics� ataulinguistik�. 

          Kata linguistik (berpadanan dengan linguisticsdalam bahasa Inggris, linguistique  dalam bahasa Prancis, dan linguistiek dalam bahasa Belanda) diturunkan dari kata bahasa Latin lingua yang berarti �bahasa�. Bahasa Prancis mempunyai dua istilah, yaitu langue dan langage dengan makna yang berbeda.
 
          Apakah Langue, Langage dan Parole itu?

langue =Suatu bahasa tertentu, seperti bahasa Indonesia, bahasa  Melayu, atau bahasa Arab. Sifatnya abstrak. 
langage = Bahasa secara umum, seperti tampak dalam ungkapanManusia punya bahasa sedangkan binatang tidak�. Sifatnya paling abtrak.
parole = Bahasa dalam wujud yang nyata, yang konkret, yaitu yang berupa  ujaran. Wujud bahasa yang diucapkan anggota masyarakat dalam kegiatan sehari-hari.
Bahasa-bahasadi duniaini memilikibanyakperbedaandan jugapersamaannya. Namun, ada ciri-cirinyayang universal, dan halitulahyang  ditelitidalamlinguistik. Oleh karenaitulahlinguistikseringdikatakanbersifatumum; dankarenaitu pula nama ilmuini, linguistik, biasajuga disebutlinguistikumum.
  

Keilmiahan Linguistik. Setiap ilmu termasuk juga ilmu linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan berikut:
          Tahap spekulasi. Sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.
          Tahap observasi dan klasifikasi. Para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan  apa pun.
          Tahap perumusan teori. Setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan .

          Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya, disiplin linguistik itu sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu.
          Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini �diuji� lagi pada dua empiris yang diperluas. Bila dengan data empiris  baru ini kesimpulan itu tetap berlaku, maka kesimpulan itu berarti semakin kuat kedudukannya. Apabila data baru itu tidak cocok dengan kesimpulan itu, maka berarti kesimpulan itu menjadi goyah kedudukannya. Jadi, perlu diwaspadai dan direvisi.
          Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering juga disebut ilmu nomotetik. Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan, tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan tersebut  berdasarkan  data empiris selanjutnya. Linguistik mendekati bahasa, yang menjadi objek kajiannya, bukan sebagai apa-apa melainkan hanya sebagai bahasa.
          Apa Objek Kajian Linguistik?
          Objek linguistik adalah bahasa. Istilah �bahasa� sering dipakai dalam arti kiasan, seperti dalam ungkapan bahasa tubuh, bahasa alam, dan sebagainya.  Itu tidak termasuk  arti istilah �bahasa� dalam ilmu linguistik.  Ada juga istilah �bahasa� dalam arti harafiah. Arti itu ditemukan dalam ungkapan seperti �ilmu bahasa�, �bahasa Indonesia�,  �bahasa Inggris�, �semestaan bahasa� dan sebagainya.  Istilah kedua inilah bahasa menjadi objek ilmu linguistik

Linguistik sebagai ilmu pengetahuan spesifik.
          Ada bermacam-macam ilmu pengetahuan, misalnya ilmu pengetahuan hukum, ilmu pasti dan alam, ilmu psikologi dan lain-lain. Dalam masing-masing ilmu tersebut, bahasa dapat menjadi objek penelitian. Misalnya, seorang ahli ilmu alam dapat berspesialisasi dalam bidang bunyi (namanya �akustik�), dan menjadi (katakan saja) seoran ahli teknologi telekomunikasi. Ia mengembangkan sebuah alat telepon yang lebih sempurna. Untuk itu, ia harus meneliti bunyi bahasa, karena telepon adalah alat komunikasi �suara�. Akan tetapi ahli seperti itu tidak mutlak harus menjadi ahli linguistik. Kalau begitu, apa yang menjadi kekhususan ilmu linguistik? Ahli linguistik berurusan dengan bahasa sebagai bahasa. Itulah �objek�nya. Yang menjadi kekhususan ilmu linguistik adalah bahasa sebagai bahasa. 

Subdisiplin Linguistik (Baca Chaer, hlm 13-18)
          Berdasarkan objek kajiannya,  apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dibedakan antara linguistik umum dan linguistik khusus. Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa Indonesia atau bahasa Arab.
          Berdasarkan objek kajiannya,  apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa  dapat dibedakan antara linguistik sinkronik dan linguistik diakronik. Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan. Biasa juga disebut linguistik deskriptif. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa (bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut (kalau bahasa tersebut sudah punah, seperti bahasa Sanskerta), atau sampai zaman sekarang (kalau bahasa itu masih tetap hidup) seperti bahasa Arab.
          Berdasarkan objek kajiannya,  apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubunganya dengan faktor-faktor diluar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (mikrolinguistik dan makrolinguistik). Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umunya. Misalnya, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikologi. Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya itu daripada struktur internal bahasa. Seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik, etnolinguistik, stilistika, filologi, dialektologi, filsafat bahasa, dan neurolinguistik.
          Berdasarkan tujuannya,  apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari  dibedakan linguistik teoretis dam linguistik terapan. Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor yang berada di luar bahasa untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan  bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat dalam masyarakat. Misalnya penyusunan kamu, dll.
          Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik. (baca  Bab 8)

Daftar Pustaka
       Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
       Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-Asas Linguistik Umum.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
       Kushartanti, dkk. 2005. Pesona Bahasa:Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta:     PT.Gramedia